Tuesday, July 1, 2014

Au Pair di Jerman

Pada tulisan pertama, saya belum menjelaskan 'dalam rangka apa saya ke Eropa?' dan 'dimananya Eropa tepatnya?'. Oke, dalam tulisan ini saya akan menjelaskannya. Pada akhir bulan Agustus nanti saya akan meninggalkan Indonesia menuju Jerman dalam rangka program Au Pair. Program Au Pair ini merupakan salah satu bentuk kerjasama Indonesia dan Jerman di bidang budaya dan pendidikan. Singkatnya, saya akan tinggal bersama salah satu keluarga Jerman (Gastfamilie). Lalu? Disana saya berkewajiban untuk membantu keluarga tersebut di dalam kesehariannya; mengantarkan dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah, membantu mempersiapkan makan, dan lain sebagainya. Lalu untungnya buat saya apa? Sebenarnya untuk saya pribadi pindah dari kota Jakarta yang padat sudah menjadi hadiah, tapi tentu bukan itu saja. Pihak keluarga berkewajiban untuk memberikan saya fasilitas belajar bahasa Jerman. Pada beberapa kasus keluarga mau menanggung biaya kursus Au Pair-nya; dan saya termasuk yang beruntung :). Bisa dikatakan menjadi Au Pair ini serupa dengan Nanny, tapi jangan dibayangkan Nanny/Pembantu di Indonesia ya. Untuk yang ingin tahu info lebih jelasnya, bisa kunjungi halaman www.aupair-world.net.

Selain Jerman, banyak lagi negara-negara yang menyediakan program serupa, misalnya: Austria, Italia, Spanyol, Belanda. Tidak hanya negara-negara Eropa, negara-negara seperti Amerika Serikat dan Australia juga menyediakan program serupa, hanya saja saya kurang mengerti detailnya. Untuk yang tertarik, sila kunjungi tautan yang saya tuliskan diatas. Disini saya akan berbagi yang benar-benar saya tahu dan mengerti saja ya: program Au Pair ke Jerman.

Sekitar bulan Oktober-November 2013 saya mulai menelusuri halaman-halaman internet yang berkaitan dengan program Au Pair. Sampailah saya pada halaman www.aupair-world.net. Berdasarkan pengalaman saya, halaman ini adalah tempat yang paling aman untuk memulai pencarian. Saya hanya perlu mendaftarkan diri, lalu buat profil diri lengkap beserta foto-foto terakhir. Sebagai saran, coba lengkapi seluruh kolom dari profil diri. Kelengkapan profil membuktikan bahwa pendaftar memang benar-benar serius, dan akan mempermudah proses pencarian calon keluarga (host family). Oh ya, pada profil bisa dicantumkan preferensi-preferensi yang berhubungan dengan program Au Pair, misalnya: negara-negara yang diinginkan, batas usia anak dan lokasi tempat tinggal. Preferensi-preferensi tersebut akan memperkecil hasil pencarian sehingga mempermudah pendaftar menemukan calon keluarga yang paling cocok. Oh, menurut saya ini juga termasuk penting; bagian foto. Saya sangat familiar dengan pose foto cv/resume yang biasa diminta saat saya daftar kerja. Jangan foto itu! Mengapa? Suatu hari saya berniat melamar pekerjaan di Italia. Kebetulan saya punya teman disana yang bisa saya titipkan curriculum vitae/resume. Tanggapan pertama dari dia adalah 'Apakah ada foto lain yang bisa disertakan di CV? Ini terlalu serius.' HA! Lalu saya coba tanya teman saya yang berasal dari Spanyol, dia menunjukkan contoh CV nya, 'Oh seperti ini!' Seperti foto yang saya upload di facebook :D rapi, jelas, dan tidak kaku. Nah kan, sampai mana tadi saya bicara...oh foto, ya kalau bisa sertakan beberapa foto yang terlihat natural, rapi dan jelas. Diakui atau tidak, penampilan merupakan impresi pertama yang bisa menentukan nasib berikutnya.

Setelah membuat profil diri, barulah saya bisa memulai pencarian. Pada mesin pencarian akan tersedia daftar berisi profil-profil keluarga yang cocok dengan preferensi pada profil diri saya. Tinggal dipilih saja yang paling sreg, lalu kirim pesan personal ke keluarga tersebut. Oh ya, setau saya ada maksimal jumlah pesan personal yang bisa dikirimkan per minggu. Jadi, jangan asal kirim pesan! Baca baik-baik profil keluarga, kalau memang belum jelas bisa sertakan pertanyaan pada pesan personal. Untuk pengalaman saya sendiri, butuh waktu 4-5 bulan dari waktu pendaftaran sampai benar-benar menemukan keluarga yang cocok dengan keinginan saya.

...berlanjut

Friday, June 27, 2014

Janji Membuat Blog

Setelah empat tahun berjuang, akhirnya saya bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali ke Eropa. Ya! Empat tahun. Saya sempat putus asa di beberapa bulan terakhir, bahkan sudah berniat untuk bunuh diri. Namun, saya tidak jadi melakukan hal itu. Hmmm ya sebenarnya saya orang yang takut sakit. Melihat jarum suntik aja sudah pusing, apalagi untuk bunuh diri hehe. Orang-orang terdekat berhasil membuat saya bertahan, termasuk Choco, anjing saya yang sudah saya anggap sebagai anak sendiri. 'Apa jadinya hidup Choco kalau saya pergi?,' pikir saya. Oh ya, pernah dengar kata-kata 'habis gelap, terbitlah terang'? Atau 'tak ada pelangi jika tak ada hujan'? Kata-kata itu tepat menggambarkan hidup saya. Oh ya, saat saya sibuk dengan urusan visa dan lain-lain, saya sempat berjanji pada diri sendiri, 'Kalau sampai dapat visa dan semua berjalan lancar, saya mau share pengalaman saya lewat blog.' Dan ternyata DAPAT! Singkatnya, blog ini ditujukan sebagai tempat saya berbagi tentang pengalaman saya mengenai banyak hal yang berkaitan dengan kepergian saya ke Eropa. Semoga blog ini bisa membantu.

Salam
Katzi